Bahaya Riya'

Muttaqin
•
Bahaya Riya'

Riya berasal dari kata رَاءَى – يُرَائِي – مُرَاءَاةً وَرِيَاءً, yang berarti memperlihatkan atau menampakkan sesuatu. Adapun secara istilah, riya' adalah menampakkan amal kebaikan kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan pujian, penghargaan, atau pengakuan dari mereka.( Maqayis Al- Lughoh Ibnu Faris 2/ 473)

Di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah terdapat banyak ancaman tentang bahaya riya’. Riya’ merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya, karena dampaknya tidak hanya merusak diri sendiri, tetapi juga dapat merusak amal, kehidupan bermasyarakat, bahkan kehidupan umat. Riya’ termasuk perbuatan yang sangat tercela dan merupakan dosa besar yang dapat merusak keikhlasan seseorang serta menggugurkan pahala amal yang dilakukannya.

Rasulullah  ﷺ menyebut riya’ sebagai syirik khafi (syirik yang tersembunyi). Riya’ termasuk bentuk syirik kecil (asy-syirk al-ashghar). Meskipun termasuk syirik kecil, ia tetap merupakan dosa besar yang sangat berbahaya, karena dapat merusak keikhlasan dan pahala amal seseorang. Nabi ﷺ  bersabda:

Rasulullah ﷺ bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ ? قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah aku kabarkan kepada Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan atas kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal?” Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”. [HR Ibnu Majah, no. 4204)

 

Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ juga menyebutkan bahwa di antara orang-orang yang pertama kali diputuskan perkaranya dan dilemparkan ke dalam neraka adalah orang yang melakukan riya', meskipun amalannya luar biasa hebatnya. 

Rasulullah  ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ   قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’ (HR. Muslim)

Hadis ini merupakan peringatan yang sangat keras tentang bahaya riya’. Perhatikanlah, orang pertama memiliki keberanian hingga mati di medan jihad, orang kedua memiliki ilmu dan membaca Al-Qur’an, sedangkan orang ketiga memiliki harta dan banyak bersedekah. Secara lahiriah, mereka melakukan amal-amal yang sangat besar.

Namun, ketika niat mereka tidak ikhlas karena Allah, amal yang tampak besar itu justru menjadi sebab kebinasaan mereka. Karena itu, persoalan terbesar dalam beramal bukan hanya seberapa besar amal yang kita lakukan, tetapi juga untuk siapa amal tersebut kita lakukan. Amal yang besar tanpa keikhlasan dapat menjadi bencana, sedangkan amal yang kecil tetapi dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi sangat bernilai di sisi Allah.

Maka, marilah kita senantiasa memperbaiki niat dan menjaga hati dari penyakit riya’. Jangan sampai amal yang kita lakukan dengan susah payah justru menjadi sesuatu yang tidak bernilai di sisi Allah hanya karena kita mengharapkan pujian dan pengakuan manusia.

6 rabi’ul awwal 1448 H/ Rabu 19 agustus 2026

Bukittingi, sumatera Barat.

Penulis: Dr. Muttaqin, S.Pd.I, M.H

Bagikan Tulisan Ini

Tulisan Terkait