الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُولِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ إِلَى خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ:وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِين
Kaum Muslimin rahimakumullah.
Hari ini adalah hari Jumat. Delapan puluh satu tahun yang lalu, pada hari yang sama dalam tanggal yang berbeda, bangsa ini memproklamasikan kepada seluruh dunia bahwa kita telah bebas dari penjajahan. Mengapa hari Jumat dipilih? Kenapa bukan hari Selasa, hari Rabu, atau hari Sabtu? Ada apa dengan hari Jumat?
Yang jelas, hari Jumat bukanlah hari biasa. Hari Jumat adalah hari yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Para tokoh bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan kita bukan hanya orang-orang yang berpikir secara rasional, tetapi di antara mereka terdapat orang-orang yang religius, agamis, dan memiliki kedekatan dengan nilai-nilai agama. Mereka memahami bahwa perjuangan manusia tidak cukup hanya dengan kekuatan fisik. Perjuangan harus disertai doa dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Mereka memahami bahwa hari Jumat adalah hari yang mulia, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Seutama-utama hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya. Dan hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.” (HR. Muslim)
Mereka ingin agar kemerdekaan ini ditolong oleh Allah. Mereka memahami bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang apabila seorang hamba berdoa kepada Allah, maka doanya akan dikabulkan. Maka ketika Proklamasi selesai dibacakan, Presiden Soekarno mengangkat kedua tangannya, kemudian doa tersebut diaminkan oleh orang-orang yang hadir di belakangnya.
Nabi ﷺ bersabda:
فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا
“Pada hari Jumat terdapat satu waktu, tidaklah seorang hamba muslim bertepatan dengannya dalam keadaan sedang shalat dan memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia minta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lidah-lidah yang berdoa pada waktu itu, dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Apalagi doa itu dipanjatkan oleh orang-orang yang sedang berpuasa. Nabi ﷺ bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ...
“Ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak, di antaranya orang yang berpuasa sampai ia berbuka.”(H.R. Tirmidzi no. 3598)
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi pada 9 Ramadan 1364 Hijriah. Maka kita melihat sebuah momentum yang sangat istimewa, kemerdekaan Indonesia bertepatan dengan hari Jumat dan bulan Ramadan.
Lalu hari ini orang bertanya: Apa bedanya 17 Agustus dengan 9 Ramadan? Bagi orang yang tidak memahami agama, mungkin mereka mengatakan, “Itu hanya perbedaan penanggalan biasa.” Tetapi bagi orang yang beriman kepada Allah, kita melihat ada sebuah kemuliaan yang luar biasa. Kemerdekaan Indonesia bertepatan dengan hari Jumat, hari yang mulia, dan bertepatan pula dengan bulan Ramadan, bulan yang sangat mulia.
Allah Ta'ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Maka bagi orang yang beriman, peristiwa kemerdekaan ini tidak hanya dilihat dengan mata sejarah, tetapi juga direnungkan dengan mata keimanan. Kita melihat bagaimana sebuah bangsa yang telah lama berada di bawah penjajahan akhirnya memperoleh kemerdekaan. Dan sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa seluruh nikmat pada hakikatnya datang dari Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman:
فَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Maka segala nikmat yang ada pada kalian, semuanya berasal dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Jamaah Jumat rahimakumullah
Hari ini anak-anak kita tidak lagi mengerti bagaimana kita merdeka. Mereka tidak lagi terpoles dengan nilai-nilai agama. Tanpa sadar, kita sudah mensekulerkan mereka. Kita sudah membuat mereka tidak lagi mengenal agama. Bagi sebagian mereka, agama hanya untuk menikah di masjid, kemudian ketika mati dishalatkan di masjid. Padahal agama bukan hanya untuk menikah dan mati. Agama adalah untuk kehidupan. Agama mengatur bagaimana kita hidup. Agama mengajarkan bagaimana kita menjadi anak yang berbakti, menjadi orang tua yang bertanggung jawab, menjadi guru yang amanah, menjadi pedagang yang jujur, menjadi pemimpin yang adil, dan menjadi rakyat yang baik.
Mereka tidak mengerti bahwa negeri ini merdeka dengan perjuangan manusia, tetapi di atas perjuangan manusia itu ada rahmat dan pertolongan Allah Ta'ala. Bahkan hal itu tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa...”
Kita masuk surga bukan semata-mata karena amal kita yang banyak, tetapi karena rahmat Allah. Begitu pula kita merdeka bukan semata-mata karena senjata kita yang hebat. Kita berjuang dengan senjata, dengan tenaga, dengan pikiran, dan dengan pengorbanan, tetapi di atas semua itu ada pertolongan Allah.
Dan kesadaran seperti ini juga ada pada para tokoh bangsa kita. Kita mengenang teriakan Bung Karno. Kita mengenang teriakan takbir Bung Tomo di Surabaya. Kita mengenang Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dalam keadaan sakit tetap bergerilya di tengah hutan belantara. Perjuangan mereka tidak hanya dengan kekuatan fisik. Nilai-nilai agama juga menjadi bagian dari kehidupan para pejuang kita. Mereka menjaga shalat, mereka berdoa, mereka berdzikir, dan mereka memohon pertolongan kepada Allah. Maka kita berharap, doa-doa para ulama, para pejuang, dan orang-orang saleh pada masa itu menjadi bagian dari sebab datangnya pertolongan Allah kepada bangsa ini.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Delapan puluh satu tahun yang lalu, ketika bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya, para tokoh dan ulama yang pada malam-malam Ramadan bermunajat kepada Allah. Mereka melaksanakan tarawih, mereka melaksanakan tahajud, mereka membaca Al-Qur'an, mereka mengangkat tangan memohon kekuatan dan pertolongan kepada Allah.
Tetapi setelah 81 tahun berlalu, apa yang terjadi hari ini?
Apa yang terjadi dengan generasi kita? Apa yang terjadi dengan anak-anak kita? Apa yang terjadi dengan cara kita mengisi kemerdekaan?
Malam-malam kemerdekaan yang seharusnya kita isi dengan rasa syukur, justru di sebagian tempat diisi dengan berbagai macam kemaksiatan. Ada organ tunggal, perempuan-perempuan menari-nari, membuka aurat, bercampur baur tanpa batas, dengan berbagai macam bentuk perayaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ada juga yang merayakan kemerdekaan dengan mengadakan lomba yang mengandung unsur perjudian. Pihak pertama dan pihak kedua membayar uang pendaftaran, kemudian uang tersebut dikumpulkan dan digunakan sebagai hadiah bagi pemenang. Kalau mekanismenya seperti itu, di mana peserta mempertaruhkan uangnya dan uang peserta yang kalah menjadi keuntungan bagi peserta yang menang, maka ini termasuk bentuk maisir atau perjudian dan hukumnya haram.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, perjudian, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung. Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui khamar dan perjudian serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat. Maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS. Al-Ma'idah: 90–91)
Kemudian ada juga yang merayakan kemerdekaan dengan laki-laki berpakaian seperti wanita, memakai daster, lalu ikut perlombaan di depan anak-anak. Ini juga perlu kita perhatikan, karena dalam Islam laki-laki dilarang menyerupai perempuan dan perempuan dilarang menyerupai laki-laki.
Rasulullah ﷺ bersabda: Abu hurairah mengatakan :
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” [HR. Ahmad)
Yang katanya syukuran, justru pada hakikatnya diisi dengan kemaksiatan. Maka tidak heran jika berbagai musibah datang silih berganti. Umat ini tidak akan pernah bangkit, kenapa? Karena kita telah mengkhianati nilai-nilai perjuangan yang telah dilakukan oleh orang tua dan para pendahulu kita di masa lalu.
Lalu inikah buah dari 81 tahun kemerdekaan? Inikah makna kemerdekaan? Merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja. Merdeka artinya kita bebas dari penjajahan, tetapi kita tetap tunduk kepada Allah dan bebas menjalankan ajaran agama kita. Hari boleh berlalu, musim boleh berganti, zaman boleh berubah, tetapi keimanan umat dan bangsa ini tidak boleh berganti. Kenapa? Karena kita meyakini bahwa di balik perjuangan dan usaha manusia, ada rahmat dan kuasa Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A'raf: 96)
Berkah dalam kemenangan, Berkah dalam pertanian, Berkah dalam rezeki, Berkah dalam pendidikan, dan Berkah dalam kehidupan. Tetapi ketika manusia mendustakan ayat-ayat Allah, maka keberkahan itu bisa dicabut. Narkoba di mana-mana, anak-anak semakin rusak, judi online semakin merajalela, game online melalaikan, bahkan korupsi terjadi di berbagai sektor.
Maka mari kita kembali kepada Allah Ta'ala. Semoga kemerdekaan Indonesia yang ke-81 ini betul-betul membawa keberkahan dan kebaikan bagi agama, rakyat, dan bangsa kita.
بَارَكَ ٱللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ ٱلْآيَاتِ وَٱلذِّكْرِ ٱلْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ ٱللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ، أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،
عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا فِي فِلَسْطِينَ عَوْنًا وَنَصِيرًا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْبِطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Masjid Agung al Madani, Sungai Tambang. Sijunjung.
Jumat 14 Agustus 2026/ 1 Rabiul Awwal 1448 H
Penulis: Ust. Dr. Muttaqin, S.Pd.I, M.H