Dari Rumah, Awal Mula Anak Kecanduan Gadget(HP)

Muttaqin
•
Dari Rumah, Awal Mula Anak Kecanduan Gadget(HP)

Rasanya kita harus jujur bahwa kecanduan gadget pada anak bermula dari rumah, dari pola asuh orang tua terhadap anak-anaknya. Pada awal masa perkembangannya, paling tidak saat usia anak 0 hingga 18 bulan, anak-anak membutuhkan kelekatan (attachment) saat berinteraksi dengan kita.

Interaksi orang tua (significant other) dengan anak, selain akan memberikan stimulasi pada otak bagian depan (prefrontal cortex), juga memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak di usia dini. Fungsi lainnya adalah sebagai pusat kontrol dalam diri mereka.

Anak-anak di rentang usia ini sungguh membutuhkan kenyamanan. Saat anak-anak kita merasa nyaman, otak mengeluarkan zat yang namanya dopamin (berkaitan dengan rasa senang). Tetapi, saat anak-anak kita tidak lekat (attach) dengan orang tuanya, kebutuhan akan kenyamanan tersebut dapat dicari dari hal lain sebagai pengganti (substitusi).

Nah, gadget adalah salah satu benda yang dapat memberikan rangsangan yang menyenangkan bagi anak. Akhirnya, terbentuklah pola bahwa kenyamanan anak dipicu oleh hadirnya gadget, bukan dari interaksi dengan orang tua dan lingkungannya. Jadi, wajar kalau nantinya mereka cenderung lekat dengan gadget dan kurang peduli pada lingkungannya.

Satu hal yang harus kita sadari adalah anak-anak yang kurang mendapatkan kenyamanan dan interaksi yang baik dari orang tuanya akan lebih berpeluang mencari kesenangan dari hal lain. Mengapa? Karena pada dasarnya, anak membutuhkan rasa nyaman, sementara kemampuan kontrol diri mereka masih lemah. Akibatnya, mereka selalu membutuhkan gadget dan semakin lama durasi penggunaannya menjadi semakin sulit dikontrol. Sehingga terjadilah over produksi dopamin (produksi dopamin berlebihan). Inilah yang secara neurologi disebut “kecanduan”

Di sinilah pentingnya orang tua memberikan perhatian, kasih sayang, dan interaksi yang cukup kepada anak. Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan dalam memberikan kasih sayang kepada anak-anak. Beliau pernah mencium Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Ketika al-Aqra‘ bin Habis melihatnya, ia berkata, “Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak, tetapi aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta‘ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa pendidikan anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi juga menjadi tanggung jawab orang tua dalam menjaga dan membimbing mereka.

Akhirnya, pertanyaannya adalah: ketika anak membutuhkan kenyamanan, siapa yang pertama kali mengenalkan dan memberikan gadget kepada mereka? Bukankah sering kali justru kita sebagai orang tua?

Karena itu, sebelum menyalahkan anak karena kecanduan gadget, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita memberikan kepada anak sesuatu yang sebenarnya mereka cari dari gadget yaitu perhatian, kenyamanan, kasih sayang, dan kebersamaan?

Referensi:

  • ·        Hilman Madani, parentime
  • ·        Sahih Bukhari Muslim

 

Talawi, Sawahlunto.

Senin 11 rabiul awwal 1448/ 24 Agustus 2024

Oleh: Muttaqin

Bagikan Tulisan Ini

Tulisan Terkait