Kalau ditanyakan, “Apa sih perkembangan yang paling berharga di usia ini yang tak akan berulang?” Jawabnya, “Otak!” Perkembangan otak ini sangatlah penting. Kenapa? Karena semua perkembangan perilaku anak terkait dengan otak. Perkembangan otak bergantung pada genetika dan stimulasi. Sesungguhnya, otak memiliki kemampuan plastisitas, sehingga dapat berubah atau diperbaiki sepanjang waktu, tapi periode terpesatnya adalah di 7 tahun pertama.
Saat dalam kandungan, pembentukan sel-sel saraf di otak mencapai 250.000 sel per menit. Karena itu, masa kehamilan menjadi masa yang sangat penting untuk diperhatikan oleh orang tua. Jangan merokok, jangan stres. Merokok 1 batang sama dengan membuat janin berhenti bernapas selama 5 menit. Bayangkan, berapa banyak perkembangan sel-sel otak yang hilang? Menjaga kondisi ibu selama kehamilan, baik secara fisik maupun psikologis, merupakan bagian dari ikhtiar orang tua dalam menjaga amanah yang Allah berikan.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa orang tua memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya. Tanggung jawab tersebut bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menjaga, membimbing, dan mendidik mereka.
Saat bayi dilahirkan, dengan berat otak sekitar 350–400 gr, ia sudah punya 100 miliar sel saraf yang aktif dan 900 miliar sel pendukung. Pada usia 12 bulan, berat otaknya sudah mencapai 1000 gr. Pada usia 3 tahun sudah mencapai 1200 gram. Luar biasa cepat! Jika dibanding dengan otak wanita dewasa yang memiliki berat 1250 gram, otak anak usia 3 tahun sudah mencapai 80%-nya. Itulah mengapa, fase ini menjadi salah satu fase krusial yang sangat sayang jika terlewatkan begitu saja. Kita, para orang tua, harus melakukan stimulasi.
Stimulasi yang kita lakukan akan menyambungkan sel-sel saraf (synaptic) yang akan mereka butuhkan nanti, baik itu dalam proses belajar, merespons, dan hidupnya. Apa yang terjadi saat sel otak tidak terstimulasi? Otak akan memangkas sambungan yang jarang dipakai saat usia 8 atau 10 tahun. Yang tertinggal hanyalah sel-sel saraf di otak yang biasa digunakan.
Pemangkasan ini memiliki proses yang serupa dengan pertumbuhan pohon. Dahan dan cabang yang banyak mendapatkan matahari, ditambah dengan pupuk dan air yang cukup, sehingga pohon tersebut dapat tumbuh subur dan memiliki kemungkinan besar untuk berbuah. Tapi sebaliknya, yang tak mendapatkan itu semua tak akan tumbuh dengan baik. Demikian pula dengan perkembangan otak anak. Pengalaman dan stimulasi yang diberikan secara terus-menerus akan ikut membentuk koneksi-koneksi di dalam otak mereka.
Kita, selaku orang tua, punya kesempatan besar untuk dapat membantu pertumbuhan otak anak dengan memberikan lingkungan yang memungkinkan anak aktif, sehingga kaya akan pengalaman dan membentuk sinaptik di otaknya. Stimulasi apa yang ingin kita berikan pada anak-anak kita? Otak anak di usia ini dua kali lebih aktif dari otak orang dewasa, bahkan mampu menyerap hingga 8 kali lebih cepat. Apa yang diserap? Andrew Meltzoff mengatakan bahwa bayi mampu menirukan gerak manusia, bahkan sejak hari pertama.
Artinya, anak-anak bukan hanya belajar dari apa yang kita ajarkan secara langsung, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari. Anak belajar dari lingkungan, dari perkataan orang tua, dari kebiasaan di rumah, bahkan dari cara ayah dan ibunya memperlakukan orang lain. Karena itu, berkaitan dengan stimulasi dan konten yang tertangkap pancaindra mereka, jangan sampai anak-anak kita belajar hal-hal yang tidak baik dari lingkungannya di usia ini.
Sudah tidak terstimulasi dengan baik, justru malah merekam hal-hal yang buruk. Menghapusnya akan lebih sulit dari menyerapnya. Butuh perhatian ekstra? Kalau kita menganggap ini penting, pasti kita akan memanfaatkan fase luar biasa ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa mengasuh dan mendidik anak bukan sekadar pekerjaan tambahan bagi orang tua. Ia adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Yang harus kita ketahui adalah, segala dasar perkembangan seperti emosi, ketangguhan, perkembangan fisik, seksualitas, spiritual, dan beberapa aspek perkembangan lainnya. Stimulasi yang kita lakukan harus melibatkan sebanyak mungkin pancaindra, harus sesuai dan pantas dengan tahapan usia perkembangannya, dan yang tak kalah penting, stimulasi tersebut harus menyenangkan.
Phil Silva, dalam penelitiannya, memberikan peringatan kepada kita. Ia mengatakan kalau anak-anak yang pertumbuhan stimulasi atau belajarnya bermasalah di usia dini, maka saat remaja, dapat menjadi sosok yang cenderung bermasalah.
Yang menjadi pertanyaan adalah, kapan mau serius mengasuh anak?
Saat mereka sudah bisa diajak jalan-jalan?Terlambat!
Jangan menunggu anak besar untuk mulai serius mendidiknya. Jangan menunggu anak remaja untuk mengajarkan adab. Jangan menunggu muncul masalah baru kita memberikan perhatian. Karena masa emas itu sedang berlangsung sekarang.
Golden Age bukan hanya masa emas bagi perkembangan otak anak, tetapi juga kesempatan emas untuk menanamkan iman, akhlak, kebiasaan, dan karakter.
Maka, manfaatkanlah masa ini sebaik-baiknya. Karena masa kecil tidak akan kembali. Anak-anak kita akan tumbuh, menjadi remaja, kemudian dewasa. Tetapi apa yang kita tanamkan hari ini, boleh jadi akan menjadi bekal yang mereka bawa sepanjang kehidupan.
Jangan sia-siakan Golden Age. Sebab yang sedang kita bentuk bukan hanya otaknya, tetapi kita sedang membentuk manusia.
REFERENSI
• Hilman Madani, Parentime
• Sahih Bukhari Muslim
Sabtu 5 September 2026
Oleh :Muttaqin